Breaking News From: The JakartaPost.com / Asia News Network

University of Udayana School of Medicine Establishes

The 1st Department of Anti-Aging Medicine! The idea of staying young and healthy is a universal quest of mankind.

Dr. Wimpie Pangkahila, chairman of Udayana University's Center for the Study of Anti-Aging Medicine announced the opening of the Center for the Study of Anti-Aging Medicine (CSAAM) was opened in February 2006.
The center, the first of its kind in Indonesia, focuses on education and research on anti-aging medicine.

Early last month, the university signed a Memorandum of Understanding (MOU) with the prestigious American Academy of Anti-Aging Medicine (AAM) in the areas of human resource training and technology development.

Pangkahila explained that signing the MOU held a significant impact for the development of anti-aging studies in the country.

"Indonesian doctors need to follow the rapid progress in medical studies. Anti-aging studies is an important subject that has always developed quickly," he said.

While anti-aging studies have long been included in the curriculum of medical schools in Indonesia, the Udayana center provides a more focused, comprehensive approach to the field.

"Anti-aging treatments deal with not only physical appearances, but on the overall health condition of a person using holistic medical diagnoses and approaches," he said.

One of the center's missions is to educate the public on what anti-aging and anti-aging medicine are, and how they might benefit from this special area.

The first anti-aging medicine was developed by Dr. Robert Goldman and Dr. Ronal Klatz in l981, but the area evolved as a medical specialty in the United States only in early 1991.

During a visit to Bali earlier this month, Goldman launched his best-selling book, The New Anti-Aging Revolution.

According to Goldman and experts in the AAM, the degenerative effects of biological aging leaves the body less able to resist pathogens and combat diseases. The experts believed, said Goldman, that if the aging process could be slowed, the prevalence and acuteness of many degenerative diseases and disabilities associated with aging could be reduced.

Biologically Identical Hormone Replacement, correct use of nutritional supplements and lifestyle changes -- including stress management and regular physical exercise -- can slow the aging process. Anti-aging therapies have the potential to reinforce bodily self-maintenance and thus reduce the impact of degenerative diseases.

Ejakulasi Dini
Anti-Depresi Menunda Orgasme
Ilustrasi - 'Anti-Depresi Menunda Orgasme' (GATRA/Fritz Pelenkahu)Segera beredar obat khusus ejakulasi dini. Merek obat itu belum disebut, tapi kandungan zat aktifnya sudah diketahui: dapoksetin hidroklorida. Seperti dikutip situs BBCNews.com, Selasa pekan lalu, obat tersebut terbukti dapat menunda orgasme pria. Sebenarnya dapoksetin bukanlah obat baru. Sebelumnya sudah dipakai luas untuk penyakit gangguan jiwa. Ia bergolongan sama dengan Prozac, yang kerap dipakai sebagai obat antidepresi, yaitu golongan serotonin selective reuptake inhibitor.

Tapi, karena hasil studi terakhir menunjukkan efek positif pada penderita ejakulasi, Alza mengajukan permohonan ke FDA. Jika disetujui, dapoksetin diklaim sebagai obat pertama di dunia yang khusus mengatasi ejakulasi dini. Itu persis seperti yang dialami sildenafil. Zat aktif obat disfungsi ereksi bermerek Viagra ini sebelumnya sudah dikenal sebagai obat penyakit jantung. Namun, lantaran dianggap sukses mengobati penis loyo, pil biru itu pun diklaim sebagai obat disfungsi ereksi. Dan, FDA merestuinya. Menurut Wimpie Pangkahila, seksolog pada Pusat Studi Andrologi dan Seksologi Universitas Udayana, ejakulasi prematur terjadi, antara lain, karena serotonin di otak tak berfungsi baik sehingga ejakulasi tak bisa diperlambat. Penyebab lain, beban stres dan kelelahan. Untuk itu, diperlukan obat yang mengatur aktivitas serotonin di otak. Sudah melalui uji klinis tahap terakhir.

[Kesehatan, Gatra Nomor 29 Beredar Senin, 30 Mei 2005]

TOKOH & BUKU
Wimpie Pangkahila: Menulis Novel Lagi


Mendengar nama dokter Wimpie Pangkahila otomatis orang menghubungkan nama itu dengan seks. Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Udayana ini memang lebih dikenal masyarakat sebagai konsultan masalah seksual. Selain sudah cukup lama tercatat sebagai pengasuh rubrik masalah seksual di beberapa media cetak, Wimpie juga sering menjadi pembicara di berbagai seminar tentang seks dan penulis kolom yang umumnya berkaitan dengan persoalan seputar seks, seksologi, maupun andrologi.

Seksologi dan andrologi memang bidang keahlian dokter Wimpie yang sempat mengenyam pendidikan di bidang andrologi dan seksologi di University of Washington, Amerika Serikat. Saat ini sudah 15 buku tentang seksualitas yang ditulis pengajar Seksologi dan Andrologi Universitas Udayana yang juga menjabat sebagai Ketua Pusat Studi Andrologi dan Seksologi di tempat yang sama itu.

Akan tetapi, di balik berbagai aktivitasnya, baik sebagai dosen, konsultan seks, maupun penulis buku seksualitas, mungkin sebagian orang belum tahu bahwa ia pernah menulis novel. ”Saya memang sudah suka menulis sejak SMP. Saya suka menulis puisi, cerpen, sampai akhirnya bisa menulis novel,” kata Wimpie, yang baru-baru ini meluncurkan kembali buku karangannya yang berjudul Seks yang Indah. Bahkan novelnya yang berjudul Lingkaran Cinta pernah difilmkan dengan pemeran utama salah satu bintang film remaja terkenal tahun 70-an, Lidya Kandou.
Kebiasaan menulis yang dimiliki Wimpie tidak terlepas dari hobinya membaca karya-karya sastra, baik puisi maupun prosa, sejak usia dini. Novel-novel favoritnya antara lain adalah Doctor Zhivago dan Romeo and Juliet.

”Saya suka novel itu karena menggambarkan bagaimana seseorang yang dengan rela mengorbankan cintanya demi tugas. Sementara di Romeo and Juliet mengungkap bahwa nilai cinta yang sebenarnya itu masih ada, sedangkan keadaan sekarang sudah jauh dari itu. Sekarang seks yang lebih dipentingkan,” jelas Wimpie.
Menariknya, saat ini ia masih mempunyai obsesi untuk menulis novel lagi seperti dulu. Namun, karena kesibukannya yang tak kunjung berkurang, hasrat menulis novel untuk sementara ia pendam. ”Ada satu novel saya yang masih terbengkalai sampai saat ini yang saya tulis sewaktu kuliah di Amerika Serikat sekitar tahun 1984. Novel science fiction tentang penciptaan manusia baru atau sekarang yang namanya kloning itu. Waktu itu saya belum terbayang sama sekali ada kloning seperti yang ada sekarang. Saya bekerja di laboratorium, tiba-tiba saja saya membayangkan bila ada orang yang sama seperti pacar saya yang telah hilang. Ini kan luar biasa,” kata Wimpie. Novel yang belum selesai setengahnya inilah yang ingin segera ia selesaikan.

(WEN/Litbang Kompas)

Melebar, Menderas, dan Greng!
Wimpie Pangkahila (GATRA/Ni Komang Erviani)Kim Kah Hwi tekun membaca buku manfaat bahan alami untuk kesehatan. Profesor dari Fakultas Kedokteran Malaysia University itu terkesan dengan artikel yang menyebut kenari dapat membantu mempertahankan ereksi ketika berhubungan.
Dalam artikel itu disebutkan bahwa orang Romawi dan Prancis makan kenari agar tambah "greng". Perhatian pada kenari membawa peneliti Malaysia itu menemukan obat disfungsi ereksi berabel N-Hanz. Bentuknya berupa pil dari ekstrak kacang kenari dan diyakini semujarab obat disfungsi ereksi (DE) dalam menegakkan "tugu monas".

Berkat temuan itu, temuan Kim meraih medali emas sebagai penemuan terbaik dalam International Invention, Innovation, Industrial Design and Technology Exhibition, 18-20 Mei 2007, di Kuala Lumpur. Menurut Kim, kenari menghasilkan bahan asam amino yang disebut arginine. Jika diserap tubuh, arginine membantu memperlebar pembuluh darah. Setelah melebar, aliran darah akan menderas dan mengisi jaringan spons penis. "Juga meningkatkan aliran darah ke penis sehingga bisa ereksi lama," katanya.
Kim mengolah ekstrak kenari dalam bentuk tablet agar mudah ditenggak. Dia menggunakan 40 laki-laki loyo untuk menjajal ramuannya. Eh, setelah satu jam, seluruh responden menyatakan bahwa "burung" mereka bisa manggung. "Mereka mengaku bisa ereksi empat jam," Kim mengklaim. Memang dosis yang diberikan Kim cukup tinggi. Kadar satu tablet yang ditenggak responden sama dengan mengonsumsi 3,3 kilogram kenari. Reaksi itu setara dengan obat DE, yaitu sildenafil, vardenafil, dan tadalafil.

Toh, menggunakan obat DE mesti ekstra hati-hati, karena membahayakan penderita jantung atau diabetes. Menurut Kim, tablet bikinannya tidak membahayakan penderita jantung dan diabetes. "Karena kenari bukan bahan kimia," dia menjelaskan. Bagi Dokter Akmal Taher, urolog pada Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, temuan Kim bukanlah hal baru. Dia sepakat dengan Kim bahwa kenari mengandung arginine. Namun "daya angkat" arginine tidak setangguh obat DE. "Efeknya tidak begitu bagus," katanya.

Menurut Akmal, harus dibedakan antara gairah (libido), disfungsi ereksi, dan ejakulasi dini. Karena masalah dan penyebabnya berbeda-beda. Libido atau gairah adalah ketertarikan terhadap seks sehingga menimbulkan ereksi dan berejakulasi dengan baik. Penyebab orang tidak memiliki libido atau gairah seks adalah kurangnya hormon terosteron dan masalah psikis.

Sedangkan disfungsi ereksi adalah tidak bisa tegaknya penis karena gangguan organ. Bisa karena pembuluh darah yang menyempit, saraf terganggu, atau mengonsumsi obat-obatan. Untuk mengatasinya, sistem organ harus diperbaiki. Misalnya dengan memberikan obat untuk memperlebar pembuluh darah atau menghentikan pemakaian obat yang menyebabkan loyo. Ejakulasi dini juga merupakan problem seksual. Penyebabnya lebih banyak faktor psikis. Untuk itu, diberikan obat-obatan yang bekerja di otak untuk merangsang.

Keraguan atas temuan Kim juga disampaikan Wimpie Pangkahila, Kepala Pusat Studi Spesialis Andrologi dan Seksologi, Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, Denpasar. Menurut dia, ilmu pengetahuan dan teknologi sekarang hanya menyebutkan tiga bahan yang ampuh mendongkrak "burung" yang tak bisa tegak. "Hanya ada tiga bahan yang sudah terbukti secara ilmiah, yakni sidienafil, vardenafil, dan tadalafil," katanya. Karena itu, dia meragukan jika ada jamu atau obat yang diklaim punya kasiat yang sama.

Rohmat Haryadi, Elmy Diah Larasati, dan Komang Erviani
[Kesehatan, Gatra Nomor 31 Beredar Kamis, 14 Juni 2007]

Pria Juga Bisa Orgasme Berkali-kali (pdf format 129 kb)

Menakar Kualitas Ereksi (pdf format 334kb)
 
http://www.wimpie-pangkahila.com © 2007
Home | Profile | Articles | Activities | Clinic | Books | Media Clipping | Poetry | Communication | Picture Gallery
design - maintenance : astinproduction